Nvidia Bidik Cuan Rp3,4 Kuadriliun dari CPU Vera, Bukan Lagi GPU Nvidia selama ini dikenal sebagai raksasa GPU yang menjadi tulang punggung ledakan kecerdasan buatan global. Namun, perusahaan yang dipimpin Jensen Huang itu kini mulai membuka ladang pendapatan baru yang bukan berasal dari GPU. Lewat prosesor pusat bernama Vera, Nvidia menyebut ada peluang pasar baru senilai 200 miliar dolar AS, atau sekitar Rp3,4 kuadriliun jika dihitung memakai pembulatan kurs Rp17.000 per dolar AS. Dengan kurs JISDOR Bank Indonesia pada 26 Mei 2026 sebesar Rp17.789 per dolar AS, nilai 200 miliar dolar AS bahkan mendekati Rp3,56 kuadriliun.
Vera CPU Jadi Sumber Cuan Baru Nvidia
Selama beberapa tahun terakhir, nama Nvidia hampir selalu dikaitkan dengan GPU untuk pelatihan dan inferensi AI. Produk seperti H100, H200, Blackwell, dan Rubin membuat perusahaan ini menjadi pusat belanja data center global. Namun, pada laporan keuangan terbaru, Jensen Huang mulai menyorot CPU Vera sebagai pintu masuk menuju pasar baru yang selama ini belum benar benar digarap Nvidia.
TechCrunch melaporkan Jensen Huang menyebut Vera membuka total pasar baru senilai 200 miliar dolar AS bagi Nvidia. Ia menjelaskan bahwa pasar ini berkaitan dengan kebutuhan CPU untuk AI agent, yaitu sistem kecerdasan buatan yang tidak hanya menjawab perintah, tetapi juga menjalankan tugas, memakai perangkat lunak, dan bekerja seperti pengguna digital yang aktif.
Pernyataan ini penting karena Nvidia tidak lagi hanya bicara tentang GPU sebagai mesin utama AI. Perusahaan mulai memperluas posisi dari pembuat akselerator grafis menjadi penyedia infrastruktur komputasi penuh, mulai dari CPU, GPU, jaringan, perangkat lunak, sampai sistem server siap pakai.
Bukan GPU, Kali Ini Nvidia Mengincar CPU
GPU tetap menjadi produk paling terkenal Nvidia. Chip jenis ini sangat kuat untuk memproses banyak data secara paralel, sehingga cocok untuk melatih model AI besar dan menjalankan inferensi dalam skala besar. Namun, AI agent membutuhkan bagian lain yang tidak selalu bergantung pada GPU.
Huang menjelaskan bahwa bagian berpikir dari model AI memang banyak berjalan di GPU, tetapi agent yang menjalankan tugas memakai banyak proses berbasis CPU. Agent perlu membuka alat, membaca instruksi, menulis perintah, memanggil layanan, mengelola memori kerja, dan menjalankan banyak aktivitas yang menyerupai penggunaan komputer oleh manusia.
Di titik ini, CPU kembali menjadi komponen penting. Jika dunia memakai miliaran agent digital, kebutuhan CPU untuk mengatur pekerjaan agent akan melonjak. Nvidia melihat celah itu sebagai pasar besar yang belum mereka kuasai sepenuhnya.
Mengapa Angkanya Bisa Disebut Rp3,4 Kuadriliun
Angka 200 miliar dolar AS terdengar jauh dari percakapan konsumen biasa. Jika dikalikan pembulatan kurs Rp17.000 per dolar AS, nilai itu menjadi sekitar Rp3.400 triliun, atau Rp3,4 kuadriliun. Dengan kurs JISDOR Bank Indonesia pada 26 Mei 2026 sebesar Rp17.789 per dolar AS, nilainya menjadi sekitar Rp3.557 triliun.
Bagi Nvidia, angka ini bukan penjualan yang sudah masuk seluruhnya, melainkan total addressable market atau pasar yang dapat dibidik. Artinya, perusahaan melihat ada ruang bisnis sebesar itu jika produk Vera berhasil masuk ke server AI global dalam skala luas.
Reuters juga melaporkan bahwa Huang menyebut proyeksi pasar CPU 200 miliar dolar AS tersebut memasukkan China sebagai bagian dari peluang, meski hubungan teknologi Amerika Serikat dan China masih dibatasi banyak aturan ekspor.
AI Agent Membuat CPU Kembali Jadi Rebutan
Dalam era AI generatif awal, perhatian publik tertuju pada GPU karena chip itulah yang memproses model besar. Namun, ketika AI bergerak menuju agent, kebutuhan infrastrukturnya berubah. Agent tidak hanya menghasilkan teks atau gambar, tetapi dapat menyelesaikan pekerjaan yang berlapis.
Agent dapat membaca email, membuka database, menulis kode, menjalankan perintah, mencari dokumen, menghubungi layanan lain, dan menyusun hasil kerja. Aktivitas seperti itu membutuhkan koordinasi komputasi yang sangat besar. Banyak pekerjaan kecil harus dilakukan serentak, dan CPU menjadi bagian penting dalam mengatur arus tugas tersebut.
TechCrunch menulis bahwa Vera dirancang untuk memproses token secepat mungkin, berbeda dari CPU cloud klasik yang lebih banyak dirancang untuk menjalankan banyak aplikasi umum. Dengan kata lain, Nvidia ingin membuat CPU yang tidak sekadar menjadi pendamping GPU, tetapi menjadi komponen utama untuk kerja agentic AI.
Vera Rubin Jadi Paket Lengkap Nvidia Berikutnya
Vera tidak berdiri sendiri. CPU ini menjadi bagian dari platform Vera Rubin, yaitu kombinasi CPU Vera dengan GPU Rubin. Platform tersebut disiapkan untuk pusat data AI skala besar yang membutuhkan tenaga komputasi tinggi, jaringan cepat, dan efisiensi listrik yang ketat.
The Guardian mencatat Huang menyebut platform Vera Rubin yang akan datang pada paruh kedua 2026 sebagai lompatan besar untuk infrastruktur AI. Laporan yang sama menyebut Nvidia sedang menikmati lonjakan permintaan data center, sementara pelanggan besar seperti perusahaan cloud dan pengembang model AI terus membutuhkan sistem komputasi baru.
Dengan Vera Rubin, Nvidia berusaha mengikat pelanggan lebih kuat ke dalam ekosistemnya. Perusahaan tidak hanya menjual satu chip, tetapi menjual rancangan komputasi yang terdiri dari CPU, GPU, jaringan, perangkat lunak, dan platform server.
Nvidia Sudah Punya Modal dari Bisnis Data Center
Masuk ke pasar CPU bukan langkah kecil, tetapi Nvidia datang dengan posisi sangat kuat. Dalam laporan resmi kuartal pertama fiskal 2027, Nvidia mencatat pendapatan 81,6 miliar dolar AS, naik 85 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan data center mencapai 75,2 miliar dolar AS, naik 92 persen secara tahunan.
Angka itu menunjukkan bahwa Nvidia saat ini bukan lagi perusahaan yang hanya bergantung pada kartu grafis untuk gim. Bisnis data center sudah menjadi pusat pendapatannya. Pelanggan seperti hyperscaler, penyedia cloud AI, perusahaan model AI, dan perusahaan besar menjadi sumber permintaan utama.
AP juga melaporkan laba bersih Nvidia pada kuartal tersebut mencapai 58,32 miliar dolar AS, sementara perusahaan memproyeksikan pendapatan kuartal berikutnya sebesar 91 miliar dolar AS. Dengan kas dan arus pesanan seperti itu, Nvidia punya ruang besar untuk mendorong produk baru seperti Vera.
CPU Vera Bisa Mengubah Peta Server AI
Pasar CPU server selama ini banyak diisi oleh nama seperti Intel dan AMD. Nvidia sebelumnya memang punya CPU Grace, tetapi perusahaan masih lebih dikenal sebagai raja GPU. Vera dapat membuat persaingan CPU server menjadi lebih panas karena Nvidia membawa strategi berbeda.
Nvidia tidak hanya menjual CPU sebagai komponen terpisah. Mereka menjual CPU dalam sistem AI yang sudah terhubung dengan GPU, jaringan, dan perangkat lunak. Pendekatan seperti ini dapat menarik pelanggan besar yang ingin membangun data center AI tanpa menyusun sendiri semua komponen dari berbagai vendor.
Barronโs melaporkan bahwa Nvidia diposisikan sebagai calon pemain besar di pasar CPU server, dengan proyeksi pendapatan CPU 20 miliar dolar AS pada 2026. Angka ini bahkan dapat menyaingi penjualan chip data center Intel pada tahun sebelumnya.
Penjualan CPU Sudah Mulai Terlihat
Pernyataan Nvidia soal peluang 200 miliar dolar AS bukan sekadar promosi kosong. TechCrunch melaporkan Huang mengatakan Nvidia sudah menjual CPU Vera mandiri senilai 20 miliar dolar AS pada tahun ini.
Yahoo Finance juga melaporkan CFO Nvidia Colette Kress menyebut pendapatan CPU akan mencapai 20 miliar dolar AS dari penjualan CPU mandiri dan superchip.
Angka 20 miliar dolar AS membuat Vera langsung terlihat bukan proyek kecil. Jika benar tercapai, pendapatan CPU Nvidia akan menjadi bisnis besar yang berdiri di samping GPU, jaringan, dan perangkat lunak data center.
Jaringan Juga Menjadi Mesin Uang Besar
Walau topik utama saat ini adalah CPU, Nvidia juga sedang menikmati lonjakan dari bisnis jaringan. Sebelum Vera mencuri perhatian, Nvidia sudah membuktikan bahwa bagian non GPU dapat menjadi sumber pendapatan besar.
HPCwire, mengutip laporan keuangan Nvidia, mencatat pendapatan jaringan data center Nvidia mencapai rekor 14,8 miliar dolar AS pada kuartal pertama fiskal 2027. Angka itu naik 199 persen dari tahun sebelumnya dan naik 35 persen dari kuartal sebelumnya.
MarketWatch juga menyebut Nvidia memiliki kekuatan besar di jaringan data center, termasuk melalui warisan akuisisi Mellanox pada 2020. Ini menunjukkan strategi Nvidia semakin jelas. Mereka ingin menjadi pemasok seluruh infrastruktur AI, bukan hanya pemasok GPU.
Strategi Full Stack Jadi Senjata Nvidia
Kekuatan Nvidia berada pada strategi full stack. Perusahaan menjual chip, papan server, sistem rack, jaringan, perangkat lunak, pustaka komputasi, dan alat pengembangan. Pelanggan besar tidak hanya membeli keping silikon, tetapi membeli sistem yang sudah dioptimalkan.
Model ini membuat Nvidia sulit ditandingi oleh perusahaan yang hanya menjual satu bagian. Produsen CPU mungkin kuat di server umum. Produsen GPU lain mungkin kuat di akselerator. Namun, Nvidia berusaha menyatukan semua lapisan agar pelanggan mendapat performa tinggi tanpa harus menyusun banyak komponen sendiri.
Reuters Breakingviews menulis bahwa Nvidia kini seperti konduktor dalam orkestrasi ekosistem AI, karena perusahaan memakai kekuatan kasnya untuk memperkuat rantai pasok dan investasi strategis di berbagai perusahaan yang terkait infrastruktur AI.
China Tetap Masuk Hitungan Nvidia
Salah satu bagian menarik dari pasar CPU 200 miliar dolar AS adalah keterlibatan China. Reuters melaporkan Huang menyatakan proyeksi tersebut memasukkan pasar China, meski masih ada ketegangan teknologi dan pembatasan ekspor antara Washington dan Beijing.
China tetap penting karena negara itu memiliki permintaan besar untuk data center, cloud, AI, dan komputasi perusahaan. Jika Nvidia dapat menjual produk tertentu secara legal ke China, pasar tersebut dapat memperbesar pendapatan perusahaan.
Namun, risiko regulasi tetap tinggi. Aturan ekspor Amerika Serikat dapat berubah, izin penjualan dapat tertahan, dan persetujuan dari pihak China juga tidak selalu mudah. Karena itu, angka 200 miliar dolar AS tetap harus dibaca sebagai peluang besar yang masih dipengaruhi kebijakan geopolitik.
Investor Melihat Nvidia Tidak Ingin Bergantung pada Satu Produk
Bagi investor, pesan dari Vera cukup jelas. Nvidia ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya datang dari GPU. Jika harga GPU mulai ditekan pesaing atau pelanggan besar mulai membuat chip sendiri, Nvidia masih memiliki lini lain seperti CPU, jaringan, perangkat lunak, dan sistem AI lengkap.
Tomโs Hardware melaporkan Nvidia mengubah cara pelaporan segmennya, tidak lagi menonjolkan penjualan GPU gim secara terpisah seperti dulu. Pendapatan kini lebih diarahkan pada pasar penerapan seperti data center dan edge computing.
Perubahan pelaporan ini memperlihatkan identitas baru Nvidia. Perusahaan ingin dilihat sebagai penyedia infrastruktur komputasi global, bukan sekadar pembuat GPU untuk gamer dan workstation.
Persaingan Tetap Berat
Meski peluangnya besar, Nvidia tidak berjalan tanpa lawan. Di pasar CPU server, Intel dan AMD sudah memiliki pengalaman panjang, ekosistem luas, serta pelanggan yang terbiasa memakai arsitektur mereka. Di sisi lain, perusahaan cloud besar seperti Amazon, Google, Microsoft, dan sejumlah pemain China juga mengembangkan chip sendiri.
Namun, Nvidia memiliki keunggulan pada integrasi. Vera tidak dijual hanya sebagai CPU umum, melainkan sebagai bagian dari platform AI. Jika pelanggan sudah memakai GPU Nvidia, jaringan Nvidia, dan perangkat lunak Nvidia, memakai CPU Nvidia dapat terasa lebih mudah.
Tantangannya adalah harga, pasokan, konsumsi daya, dan kepercayaan pelanggan. Data center besar tidak mudah mengganti arsitektur jika belum yakin pada stabilitas, performa, dan dukungan jangka panjang. Nvidia harus membuktikan Vera mampu bekerja kuat dalam skala produksi besar.
Tambang Baru Ini Bisa Mengubah Cerita Nvidia
Selama ini, cerita besar Nvidia selalu dimulai dari GPU. Kini, CPU Vera memberi perusahaan bahan cerita baru. Jika pasar 200 miliar dolar AS benar terbuka, Nvidia dapat memperluas pendapatan di luar GPU dan semakin masuk ke pusat data global dari banyak arah.
Angka Rp3,4 kuadriliun dalam judul bukan uang yang langsung masuk ke kas Nvidia hari ini. Itu adalah besaran peluang pasar yang dibidik. Namun, ketika perusahaan sudah mencatat pendapatan kuartalan 81,6 miliar dolar AS dan data center 75,2 miliar dolar AS, klaim pasar baru seperti Vera tidak bisa dianggap sekadar wacana.
Bagi industri teknologi, langkah Nvidia ini menandakan babak baru dalam perang infrastruktur AI. GPU tetap penting, tetapi CPU kembali mendapat panggung. Jika AI agent benar benar menyebar luas, Vera dapat menjadi salah satu produk paling menentukan dalam upaya Nvidia menjaga posisi sebagai penguasa komputasi AI global.


Comment