Kadin Bangkit Lagi, Purwakarta Pasang Target Investasi Rp 15 Triliun Kamar Dagang dan Industri Kabupaten Purwakarta kembali bergerak setelah beberapa tahun tidak memiliki kepemimpinan definitif. Aktifnya lagi organisasi dunia usaha ini langsung dikaitkan dengan target besar, yaitu menarik investasi hingga Rp 15 triliun. Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menaruh harapan kepada kepengurusan baru Kadin Purwakarta agar mampu menjadi penghubung kuat antara pemerintah daerah, investor, pelaku industri, dan usaha lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Purwakarta.
Kadin Purwakarta Punya Ketua Lagi Setelah Lama Kosong
Musyawarah Kabupaten VII Kadin Purwakarta digelar di Prime Plaza Hotel Purwakarta pada Selasa, 9 Juni 2026. Dalam forum tersebut, R. Priyatna Kusumah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Kadin Purwakarta periode 2026 sampai 2031. LPPL Purwakarta mencatat kepengurusan baru ini terbentuk setelah Kadin Purwakarta mengalami kekosongan kepemimpinan selama kurang lebih empat tahun.
Kehadiran kembali Kadin menjadi peristiwa penting bagi dunia usaha daerah. Selama organisasi tidak memiliki ketua definitif, komunikasi antara pelaku usaha, investor, asosiasi, dan pemerintah daerah tidak berjalan sekuat yang diharapkan. Padahal, Purwakarta bukan daerah kecil dalam peta ekonomi Jawa Barat. Wilayah ini memiliki kawasan industri, jalur logistik penting, serta kedekatan dengan pusat pertumbuhan ekonomi di Karawang, Bekasi, Subang, dan Bandung Raya.
Dalam pembukaan musyawarah tersebut, Bupati Purwakarta hadir langsung. Pemerintah daerah memberi sinyal bahwa Kadin tidak hanya diharapkan menjadi organisasi seremonial, tetapi juga mitra kerja untuk memperkuat iklim usaha. Ketua Kadin Jawa Barat Almer Fariq Rusyadi turut menyambut terbentuknya kepengurusan baru dan menyebut Kadin Purwakarta siap kembali bermitra dengan pemerintah daerah.
Om Zein Pasang Angka Rp 15 Triliun
Target Rp 15 triliun menjadi perhatian karena nilainya lebih tinggi dibanding capaian investasi Purwakarta tahun sebelumnya. Om Zein menyampaikan harapan agar investasi yang masuk ke Purwakarta dapat mencapai Rp 15 triliun, dengan alasan perputaran ekonomi daerah perlu diperkuat dan manfaatnya harus terasa bagi masyarakat. LPPL Purwakarta juga mencatat pemerintah daerah sebelumnya menargetkan investasi 2026 sebesar Rp 13,2 triliun.
PewartaPos melaporkan Om Zein menantang Ketua Kadin Purwakarta terpilih, R. Priyatna Kusumah, untuk menarik investasi hingga Rp 15 triliun. Dalam sambutannya, ia menyebut investasi Purwakarta sebelumnya naik dari sekitar Rp 11 triliun menjadi Rp 12 triliun meski Kadin Purwakarta saat itu masih vakum.
Target Rp 15 triliun memang ambisius, tetapi bukan angka yang sepenuhnya lepas dari pijakan. Purwakarta sudah memiliki modal capaian investasi yang kuat. Dengan Kadin aktif lagi, pemerintah daerah ingin dorongan terhadap investasi tidak hanya bertumpu pada dinas teknis, melainkan juga mendapat dukungan langsung dari wadah resmi dunia usaha.
“Target Rp 15 triliun tidak cukup dikejar lewat seremoni. Angka sebesar itu membutuhkan kepastian lahan, izin yang jelas, tenaga kerja siap pakai, dan komunikasi bisnis yang tidak berbelit.”
Capaian 2025 Jadi Modal Percaya Diri
Pemerintah Kabupaten Purwakarta mencatat realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp 12,47 triliun. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Purwakarta menyebut capaian tersebut setara 111,36 persen dari target Rp 11,20 triliun. Dari total itu, Penanaman Modal Dalam Negeri mendominasi sebesar Rp 9,58 triliun atau 76,80 persen, sementara Penanaman Modal Asing menyumbang Rp 2,89 triliun atau 23,20 persen.
Capaian tersebut juga bukan hanya soal angka uang masuk. Pada 2025, kegiatan penanaman modal di Purwakarta menyerap 10.802 tenaga kerja Indonesia. Rinciannya, 6.870 orang terserap dari investasi asing dan 3.932 orang dari investasi dalam negeri.
ANTARA juga mencatat angka yang sama, yakni realisasi investasi Purwakarta pada 2025 menembus Rp 12,47 triliun dan melampaui target. Bupati menyebut peningkatan investasi biasanya berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan perluasan kesempatan kerja di daerah.
Dengan capaian tersebut, Purwakarta memiliki alasan untuk menaikkan sasaran. Namun, menaikkan target dari Rp 12,47 triliun menuju Rp 15 triliun berarti daerah harus mencari tambahan investasi sekitar Rp 2,53 triliun dibanding realisasi 2025. Kadin akan diuji apakah mampu membuka pintu investor baru, membantu investor lama memperluas usaha, serta membuat pelaku lokal ikut naik dalam rantai pasok.
Purwakarta Masuk Lima Besar Tujuan Investor di Jawa Barat
Purwakarta tidak datang dari posisi kosong. DPMPTSP Purwakarta menyebut daerah ini menempati peringkat kelima sebagai kabupaten atau kota yang paling diminati investor Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri di Jawa Barat sepanjang Januari sampai Desember 2025. Posisi itu menunjukkan Purwakarta masih kuat dalam persaingan antardaerah yang sama sama memburu investasi.
Persaingan investasi di Jawa Barat sangat ketat. Karawang, Bekasi, Bogor, Bandung, Subang, dan wilayah lain juga punya daya tarik masing masing. Ada yang kuat karena kawasan industri besar, ada yang unggul karena akses pelabuhan, ada pula yang mulai tumbuh karena proyek infrastruktur dan kawasan hunian baru. Dalam posisi seperti ini, Purwakarta harus memiliki tawaran yang lebih jelas.
Keunggulan Purwakarta berada pada letaknya yang berada di jalur industri dan logistik Jawa Barat. Wilayah ini dekat dengan koridor Jakarta, Cikampek, Bandung, dan kawasan Rebana. Akses jalan tol, jaringan logistik, kawasan industri, serta ketersediaan tenaga kerja menjadi bagian dari daya tarik yang dapat dipasarkan Kadin kepada calon investor.
Sektor Transportasi dan Industri Jadi Penopang
Realisasi investasi Purwakarta pada 2025 paling besar berasal dari sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi dengan nilai Rp 3,87 triliun. Setelah itu, sektor industri barang dari kulit dan alas kaki mencatat realisasi Rp 1,30 triliun, industri karet dan plastik Rp 968,74 miliar, industri tekstil Rp 915,37 miliar, serta konstruksi Rp 832,13 miliar.
Data ini memberi gambaran bahwa Purwakarta tidak hanya mengandalkan satu sektor. Transportasi dan pergudangan menunjukkan peran daerah dalam jaringan distribusi. Sementara industri kulit, alas kaki, karet, plastik, tekstil, dan konstruksi memperlihatkan basis manufaktur yang masih kuat. Bila sektor sektor ini diperkuat, target Rp 15 triliun bisa lebih masuk akal.
Namun, sektor yang sudah tumbuh juga membutuhkan pengawalan. Industri membutuhkan listrik stabil, air, akses jalan, kepastian tata ruang, pengelolaan limbah, serta tenaga kerja dengan keterampilan sesuai kebutuhan pabrik. Tanpa perbaikan unsur dasar tersebut, investasi dapat masuk sebentar lalu tersendat ketika pelaku usaha menghadapi hambatan operasional.
Investor Asing Masih Melihat Purwakarta
PMA masih menjadi bagian penting dari realisasi investasi Purwakarta. DPMPTSP mencatat lima negara dengan nilai realisasi investasi asing terbesar pada 2025 berasal dari Korea Selatan sebesar Rp 750,11 miliar, Samoa Amerika Rp 621,15 miliar, Jepang Rp 435,36 miliar, Singapura Rp 383,85 miliar, dan Belanda Rp 295,85 miliar.
Kehadiran investor dari berbagai negara menunjukkan bahwa Purwakarta sudah dikenal dalam peta investasi lintas negara. Namun, persaingan merebut investor asing tidak sederhana. Investor akan membandingkan biaya lahan, upah, kualitas infrastruktur, kepastian hukum, pasokan energi, fasilitas logistik, dan pelayanan perizinan dengan daerah lain.
Di sinilah peran Kadin bisa lebih terlihat. Kadin dapat membantu membaca kebutuhan investor, menjembatani komunikasi dengan pelaku usaha lokal, serta memberi masukan kepada pemerintah daerah mengenai keluhan lapangan. Investor sering membutuhkan kepastian yang lebih rinci daripada sekadar promosi. Mereka ingin tahu seberapa cepat izin diproses, bagaimana ketersediaan pemasok, di mana kawasan yang sesuai, dan apakah tenaga kerja lokal dapat memenuhi kebutuhan produksi.
Kadin Diharapkan Jadi Jembatan Dunia Usaha
Kadin Indonesia menjelaskan bahwa Kamar Dagang dan Industri merupakan organisasi yang menampung pelaku usaha besar dan kecil, mencakup sektor negara, koperasi, dan swasta. Kadin hadir sebagai representasi dunia usaha dalam menjembatani kepentingan pengusaha dengan pemerintah dan pemangku kepentingan lain.
Undang Undang Nomor 1 Tahun 1987 menjadi dasar keberadaan Kadin. Dalam laman resminya, Kadin menyebut tugas utamanya adalah menghimpun, membina, mewakili, dan memperjuangkan kepentingan dunia usaha secara menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan untuk memperkuat perekonomian nasional.
Pada tingkat daerah, fungsi itu menjadi sangat nyata. Kadin Purwakarta dapat menjadi tempat bertemunya pengusaha besar, pelaku UMKM, asosiasi industri, investor, pemerintah daerah, perbankan, lembaga pendidikan vokasi, dan komunitas ekonomi lokal. Bila peran ini berjalan, Kadin tidak hanya menjadi nama organisasi, tetapi pusat kerja bersama.
UMKM Lokal Jangan Jadi Penonton
Salah satu pekerjaan besar Kadin Purwakarta adalah memastikan investasi besar tidak membuat UMKM lokal hanya menonton dari pinggir. Masuknya modal besar perlu membuka ruang bagi pemasok lokal, jasa transportasi, katering, perawatan gedung, pengemasan, produk kreatif, pelatihan kerja, hingga usaha pendukung kawasan industri.
Ketua Kadin Jawa Barat Almer Faiq Rusydi menilai Purwakarta memiliki posisi penting sebagai koridor industri, manufaktur, dan investasi di Jawa Barat. Menurutnya, aktifnya kembali Kadin Purwakarta bukan hanya menyelesaikan urusan administratif organisasi, tetapi juga memperkuat hubungan antara pelaku usaha dan pemerintah daerah.
Kadin dapat membuat program yang lebih menyentuh pelaku usaha kecil. Misalnya pendataan pemasok lokal, pelatihan standar produksi, sertifikasi, akses pembiayaan, dan temu bisnis antara perusahaan besar dengan UMKM. Jika langkah ini berjalan, investasi Rp 15 triliun tidak hanya tercatat dalam laporan, tetapi juga mengalir ke warung, jasa lokal, bengkel, logistik kecil, produsen makanan, hingga usaha rumahan yang bisa masuk rantai pasok.
“Investasi yang baik bukan hanya datang membawa bangunan pabrik. Ia harus membuka pasar bagi usaha lokal dan memberi ruang kerja bagi warga sekitar.”
Pertanian dan Perkebunan Tetap Perlu Tempat
Saat menyambut kepengurusan baru Kadin Purwakarta, Om Zein menyebut pemerintah sudah menyiapkan berbagai zona pengembangan, mulai dari kawasan industri hingga pertanian dan perkebunan. Ia berharap Kadin mampu mengisi dan mengoptimalkan potensi yang ada.
Pernyataan ini penting karena Purwakarta tidak boleh hanya membaca investasi sebagai urusan pabrik. Daerah juga memiliki ruang pertanian, perkebunan, pangan olahan, peternakan, pariwisata, dan ekonomi berbasis desa. Jika Kadin hanya berfokus pada industri besar, banyak potensi lokal dapat tertinggal.
Pertanian dan perkebunan membutuhkan investasi berbeda. Bukan hanya modal besar, tetapi juga pengolahan hasil, penyimpanan dingin, pemasaran, kemasan, akses digital, dan hubungan dengan pasar ritel. Kadin dapat membantu menyatukan petani, koperasi, pengolah makanan, dan investor yang tertarik pada rantai nilai pangan.
Perizinan Cepat Harus Diikuti Kepastian Lapangan
DPMPTSP Purwakarta menyatakan pemerintah daerah berkomitmen menjaga iklim investasi melalui pelayanan perizinan yang mudah, cepat, dan transparan. Komitmen ini menjadi fondasi penting untuk mengejar target lebih tinggi pada 2026.
Namun, perizinan cepat tidak cukup bila keadaan di lapangan belum siap. Investor tetap membutuhkan kepastian tata ruang, lahan bebas sengketa, akses jalan, kecukupan air, pasokan listrik, pengelolaan limbah, dukungan keamanan, dan hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Izin yang selesai cepat akan kehilangan arti jika proyek terhambat karena masalah teknis dan sosial.
Kadin dapat menjadi kanal awal untuk mendengar masalah tersebut sebelum membesar. Keluhan pengusaha mengenai pungutan tidak resmi, proses lahan, layanan dasar, dan kebutuhan pekerja dapat dikumpulkan secara terstruktur. Pemerintah daerah kemudian memiliki bahan untuk memperbaiki pelayanan.
Tenaga Kerja Jadi Ukuran Penting
Target investasi Rp 15 triliun akan lebih mudah diterima publik bila dibarengi pembukaan lapangan kerja. Pada 2025, investasi Purwakarta menyerap 10.802 tenaga kerja Indonesia. Angka ini dapat menjadi pembanding untuk melihat apakah investasi berikutnya benar benar memberi manfaat bagi warga.
Purwakarta membutuhkan penyiapan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Jika investor masuk tetapi pekerja lokal tidak siap, perusahaan dapat mencari tenaga dari luar daerah. Hal ini tidak salah, tetapi dapat menimbulkan kekecewaan warga bila investasi besar tidak cukup banyak menyerap penduduk setempat.
Kadin dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah, sekolah kejuruan, balai latihan kerja, perguruan tinggi, dan perusahaan untuk menyusun pelatihan yang sesuai kebutuhan. Industri alas kaki, tekstil, logistik, konstruksi, manufaktur plastik, dan telekomunikasi membutuhkan keterampilan berbeda. Pelatihan harus mengikuti kebutuhan lapangan, bukan hanya daftar program tahunan.
Target Besar Perlu Pengawasan
Target Rp 15 triliun dapat menjadi pemicu kerja, tetapi juga perlu diawasi. Pemerintah daerah dan Kadin harus memastikan investasi yang masuk tidak mengabaikan tata ruang, lingkungan, keselamatan kerja, dan hak pekerja. Daerah industri yang tumbuh cepat sering menghadapi persoalan kemacetan, limbah, kebutuhan hunian, dan tekanan layanan publik.
Kadin dapat ikut menjaga agar pertumbuhan usaha berjalan sehat. Organisasi ini bukan hanya menarik investor, tetapi juga membina etika usaha. Perusahaan yang masuk perlu memahami aturan daerah, memenuhi kewajiban tenaga kerja, menjaga lingkungan, dan membangun hubungan baik dengan warga sekitar.
Jika target hanya dikejar sebagai angka, risiko gesekan dapat muncul. Sebaliknya, jika target dibaca sebagai kerja menyeluruh, Purwakarta dapat memperoleh investasi yang lebih berkualitas. Kadin aktif lagi memberi kesempatan baru untuk menyusun komunikasi yang lebih rapi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.
R. Priyatna Kusumah Memikul Harapan Besar
R. Priyatna Kusumah masuk ke kursi Ketua Kadin Purwakarta pada saat ekspektasi publik dan pemerintah daerah cukup tinggi. Ia tidak hanya diminta menghidupkan kembali organisasi, tetapi juga membuktikan bahwa Kadin dapat memberi kontribusi nyata pada ekonomi daerah. Tantangan dari Om Zein untuk menarik investasi Rp 15 triliun membuat masa awal kepemimpinannya langsung berada di bawah sorotan.
Kepengurusan baru perlu bergerak cepat menyusun peta kerja. Mereka harus mendata anggota, merangkul asosiasi usaha, membuka ruang komunikasi dengan pemerintah, menyusun agenda temu investor, dan membangun kanal keluhan pelaku usaha. Tanpa agenda yang jelas, aktifnya kembali Kadin hanya akan menjadi kabar organisasi, bukan perubahan kerja.
Purwakarta sudah memiliki modal berupa capaian investasi Rp 12,47 triliun pada 2025, posisi lima besar di Jawa Barat, sektor industri yang beragam, investor asing yang masih masuk, dan dukungan pemerintah daerah. Kini, pekerjaan berikutnya berada di tangan kolaborasi baru. Kadin harus membuktikan bahwa kehadirannya dapat membuat investasi Rp 15 triliun bukan sekadar target di panggung musyawarah, tetapi bergerak menjadi proyek, lapangan kerja, kemitraan usaha lokal, dan perputaran uang yang lebih kuat di Purwakarta.


Comment